Radio Buku; Buku Pertama

Bergaya seusai wawancara

Ini lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yang bahas tentang IBoekoe. Kalau ditulisan pertama saya ngobrolin tentang buku, ditulisan ini saya mau berbincang mengenai radio streaming di era internet yang  sekarang memang sudah banyak, tapi jika ditanya radio streaming yang khusus mengupas tentang buku, Radio Buku adalah salah satunya. Apa sih Radio Buku? Kenalan yukk…

“Karena buku tidak hanya untuk dibaca, di tonton, tapi juga bisa didengarkan,” tutur Gus Muh. Itulah mengapa, radio buku ada. Tahun ini, radio buku sudah memasuki tahun kedua, dan telah merekam ratusan suara.

“Ini bagian dari arsip, arsip suara, kita membaginya lewat streaming.” Menurut Gus Muh, “setiap celoteh disimpan untuk masa depan. Suara hari ini untuk 100th kedepan, setidaknya 50th kedepan”. Jika IBoekoe mengupayakan pendokumentasian seratus tahun ke belakang, Radio Buku sebaliknya. “Karena mengapa, sebab setiap suara itu penting, perbincangan penting, dan berita itu harus di rekam,” tegas Gus Muh.

Mendengarkan buku membuka cakrawala, adalah tagline dari radiobuku.com mengudara dari pukul satu siang hingga pukul delapan malam dengan lima segmen acara yaitu; Kronik Indonesia, Kabar Buku, Angkringan Buku, Cerita Bersambung dan Katalog Seni.

Uniknya, radio buku tidak memiliki penyiar tetap. Para pengisi suara yang ada adalah para relawan yang dengan atau tanpa diminta bersedia untuk berkontribusi. Jadi, ketika saya berkesempatan berkunjung kesana saya turut pula menjadi salah satu relawan yang kebetulan, malam itu Radio Buku sedang kedatangan tamu unik nan istimewa Patrick Aditya Manurung.

Waktu itu malam sudah larut, bahkan teman saya Bimo, sudah lelap tidur. Untungnya saya insomnia yang aktif, jadilah malam itu saya mewawancarai Patrick Aditya Manurung, yang baru saja datang dan langsung ditodong Gus Muh, untuk cerita tentang Buku Pertama.

Untuk mendengarkan hasil wawancara saya bisa dilihat di link ini; Buku Pertama Patrick dengan Maliya. 

Galeri Buku IBoekoe

Ketika saya jalan ke Yogyakarta minggu lalu, saya janjian bertemu di IBoekoe, dengan Bimo dan Kuncoro. Sesampainnya saya di IBoekoe, dua temen saya itu belum ada yang datang. Tapi ada Gus Muh disana, yang kebetulan belum pulang. Akhirnya, sembari menunggu pria-pria periset yang sedang sibuk-sibuknya, saya ngobrol-ngobrol dengan Gus Muh tentang IBoekoe dan selanjutya diajak untuk mengisi suara di radio buku.

Kecintaannya kepada buku, yang suatu ketika nanti akan menjadi artefak sebab digerus digitalisasi tidak menyurutkan Gus Muh, untuk tetap melestarikan tradisi literasi di Indonesia. Bersama dengan teman-teman lainnya dari yayasan Indonesia Buku, Ia mengelola sebuah perpustakaan yang disebutnya Gelaran Buku.

Diantara taman baca yang ada, IBoekoe begitu gelaran buku ini dikenal, memiliki keistimewaan terdendiri. Selain menyediakan ratusan koleksi buku untuk dibaca, dipinjam dan dicopy. IBoekoe juga menerbitkan buku yang berdasarkan pada riset dokumentasi, paling tidak satu abad yang lalu. Dimana risetnya menghabiskan waktu 1-2 tahun.

“Riset. Riset data adalah impian besarnya,” tutur Gus Muh.  Ia menyalakan sebatang rokok disela-sela obrolan kami malam itu, dengan semangat ia berbagi cerita tentang IBoekoe yang baru merayakan usia ke enam pada 23 April. “Kami berusaha untuk menyediakan layanan data semisal kliping koran.”

“Kami memiliki periset-periset muda,” tambah Gus Muh. “Periset pemula yang datang dengan kekosongan.” Ia, yang malam itu sedang tidak sabar untuk menantikan pertandingan bola dan saya yang kebetulan sedang janjian dengan dua orang teman.

Continue reading

Alasannya

“Beneran putus, Mal”, komentar seorang teman setelah membaca postingan saya tentang keputusan. Seorangnya lagi bertanya, “Memangnya hubungannya sudah enggak bisa dipertahankan?”

Untuk menjawabnya, saya menarik nafas barang beberapa detik dan memastikan bahwa saya sudah biasa saja. Bukankah ‘putus’ dalam hubungan pacaran itu pernah saya alami sebelumnya, dan rasanya tetap sama; sakit. Saya sudah mumpuni untuk hal ini, putus pacaran. Dan yang belum saya bisa atasi adalah; putus cinta. Sebab, cinta selalu tidak berbarengan putus dengan putusnya hubungan.

Ada banyak alasan yang menyebabkan hubungan pacaran berakhir- bukan ditengah jalan-saya dan pacar saya belum menentukan tujuan, saya yang memutuskannya berhenti, berhenti sebelum jalan ‘hubungan’ itu benar-benar ditemukan. Berhenti, sebelum kita memutuskan tujuan; menikah (misalnya).

Tapi, pernah beberapa kali saya obrolkan dengan pacar saya perihal menikah. Dia mengapresiasi dan menyambut baik tentang obrolan menikah. Pacar saya merencanakan untuk menikah dua tahun lagi dari hubungan kami yang sedang berjalan. Diusianya yang ke dua puluh tujuh, juga usia yang sama dengan saya. Selisih usia yang hanya dua belas hari dengan usia saya, saya lahir lebih dulu kemudian pacar saya. Iya, kami memang membicarakan tentang; menikah. Lalu, apakah rencana menikahnya pacar saya itu dengan saya? Continue reading

Nongkrong Asyik nan Klasik di Djendelo Koffie

Djendelo Koffie

Hari keenam saya di Yogyakarta, saya menyimpulkan kalau Yogyakarta, adalah salah satu kota yang menyenangkan dan patut dipikirkan untuk mengunjunginya kembali, suatu hari nanti. Kunjungan kali ini, buat saya-sudah yang kesekian kalinya. Biasanya, kunjungan saya ke Yogyakarta adalah kunjungan wisata group, pelatihan atau urusan kerja. Kali ini berbeda. Saya benar-benar main, betulan tak ada agenda khusyuk yang kudu saya lakonin dan waktunya lama pula.

Bermula dari ajakan seorang teman dari milis Seno Gumira Ajidarma, beberapa hari yang lalu mengajak kopdar di Djendelo Koffie-Togamas, saya jadi kepincut dengan tempat yang satu ini. Toko buku plus tempat nongkrong. Dan, sore ini saya balik lagi mampir sekedar melepas penasaran dengan suasananya. Yaa di Yogyakarta macam-macam tempat nongkrong memang banyak, hampir setiap jalan ada angkringan. Itu barangkali yang menjadi ciri khas kota ini; suka kumpul.

Nah, jika salah satu dari teman-teman kebetulan berkunjung ke Yogyakarta, penikmat kopi dan tempat nongkrong yang asyik,  saya merekomendasikan Djendelo Koffie. Kenapa?Banyak alasan untuk berbetah-betah nongkrong disini, tempatnya unik, desain interiornya klasik beneran dan yang bikin saya melongo adalah daftar menunya yang diberi judul; Kitab Pemoeas Dahaga.

Continue reading

Haul Chairil Anwar

Sebuah catatan untuk mengingat

kelam dan angin lalu mempesiang diriku, 

menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin, 
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu 

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Chairil Anwar | YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS | 1949

Pemakaman Chairil Anwar

Foto; klik disini

Siapa yang tidak kenal dengan Chairil Anwar? Pengarang angkatan 45′ yang dikenal dengan sebutan Si Binatang Jalang . Ia tewas dalam usia yang masih muda, 26Th.  Selisih satu tahun dengan umur saya sekarang. Usianya muda, dan karyanya hidup sepanjang masa, hingga kini dan -bahkan- nanti. Namanya akan disebut-sebut sepajang hayat kematiaannya. Cerita detail tentang Chairil Anwar, silakan baca disini teman-teman; tentang Chairil.

Saya ingin bercerita sedikit tentang hari ini, 28 April. Tanggal yang diperingati sebagai haul Chairil Anwar. Ada sebuah kebetulan yang menarik dalam kunjungan saya ke Yogyakarta kali ini. Dan kebetulan ini disadari sepenuhnya oleh Gus Muh, pengelola sebuah perpustakaan sekaligus sebuah radio online yang khusus memutarkan hal seputar buku.

Continue reading